Gulma

Gulma

Entah sampai kapan perjalanan menggunakan perahu boat ini akan selesai. Di sungai yang mengalir dengan tenang ini, bisa saja di bawahnya menciptakan sebuah rahasia yang tidak kumengerti. Semakin ke hilir sungai semakin menyempit dan bermunculan riam di kiri kanannya. Belantara hijau tersaji di kiri-kanan. Dikondisi semacam ini, cuaca semakin tak menentu. Gambaran hutan hujan tropis dengan vegatasi padat semacam ini tak akan mengijinkan matahari menyembul masuk. Hujan juga kadang muncul begitu saja, air yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah menjadi gemuruh air berwarna kecoklatan dan membawa isi material dari hilir yang membahayakan perjalanan.
Hujan benar-benar turun, perjalanan terpaksa diberhentikan dan mengingat hari yang sudah mulai petang, kami mendirikan tenda darurat dari terpal dan membuat hidangan makan siang. Roni sebagai kawan dan menjadi tour guide dadakan segera menanak nasi dan Beni sibuk mendokumentasikan momen itu. Sedang aku mememilih membaca buku Kura-Kura Dalam Tempurung pemberian seorang kawan dari Jawa.

Hujan semakin deras, bahkan kami harus berkomunikasi dengan berteriak karena suara air yang menimpa terpal menciptakan musik yang terdengar noise. Debit air sungai juga semakin naik. Dari hasil kesepakatan bersama, sambil menikmati hidangan makanan siang, kami memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan perjalanan pada pagi-pagi buta.

Malam ini aku tidak bisa tidur, ditemani api unggun yang hanya menyisakan tumpukan bara dan api kecil yang menjilat-jilat. Kulihat Roni tidur dengan pulas sambil memeluk parang, dasar, dalam kondisi tidur pun dia siap siaga. Sedangkan Beni dengan badannya yang bongsor itu mengorok dengan kusyuk, sungguh aneh mengingat dia orang kota dan baru pertama kali tidur di rimba bisa setenang itu menikmati malam.

Malam makin larut, kulirik arloji menunjukkan pukul dua belas. Aku sudah mulai jenuh dan enggan menyelesaikan buku yang kubaca. Hujan sudah berhenti, menyisakan rintik-rintik yang berasal dari air yang terjebak pada gerumbulan daun yang digoyang angin malam. Aku sudah mulai memejamkan mata, namun tiba-tiba dari seluruh penjuru belanjadi menjadi riuh redam oleh suara hewan. Suara gonggongan anjing dan babi hutan paling kentara diantara timbunan suara hewan lainnya—lalu tiba-tiba hutan menjadi hening. Aku menjadi sedikit panik, kulihat dua kawanku, namun mereka nampak menikmati tidur mereka; aku jadi enggan membangunkan. Kucoba untuk memejamkan mata, namun terdengar sayup-sayup suara tapak kaki yang menginjak ranting dan kecipak air pada tanah yang basah. Aku makin rapat memejamkan mata dan menutup muka dengan sarung. Sambil menahan rasa takut, aku berusaha berpikir positif, bisa saja itu hewan buas, sontak aku bangun mengambil parang dan melepasnya dari sangkur.

Dalam posisi siaga, kubangunkan kawan-kawanku. Namun tidak ada yang bangun.
“Selamat malam.” Muncul seorang lelaki setengah baya menggunakan pakain tradisional, badannya kecil namun tegap dan otot-ototnya menyembul-karena tempaan geografis hutan yang keras. Dihiasi motif tato yang membuatnya terlihat semakin perkasa.
“Malam.”Ucapku masih dalam kondisi siaga. Kulihat wajahnya tersenyum memperlihatkan gigi berwarna merah karena sirih.
“Ada rokok kah,” tanyanya padaku, “saya habis berburu dan terjebak hujan.” sambil menunjukkan bangkai babi hutan yang dia letakkan di bawah pohon tidak jauh dari tendaku. Mungkin suara riuh itu dia penyebabnya.
Segera kukeluarkan sebungkus rokok dari ranselku, lalu kusodorkan padanya. Entah aku tidak nafsu merokok sejak siang tadi. Padahal dalam sehari aku bisa menghabiskan tiga bungkus rokok.
“Sudah makan?” Tanyaku padanya.
“Sudah, tidak perlu repot-repot, saya hanya mencari rokok,” Ucapnya, sambil menguarkan asap rokok yang menyatu dengan udara, “Jadi apa tujuan masnya jauh-jauh ke sini?” Ucapnya tiba-tiba.
“Tujuan saya ke sini untuk meneliti.”
“Apa itu meneliti?” Ucapnya menyelidik.
“Semacam survey,” Ah, bahasaku kurang membumi, “maksud saya, sedang melihat kondisi di sini, untuk kebutuhan menulis.”
“Bukan untuk merusak hutan kan?” Mimik wajahnya berubah serius.
“Tidak, saya hanya melihat-lihat saja sambil berpetualang.” Ucapku bohong. Sebenarnya aku datang ke sini untuk keperluan pendataan dan pemetaan. Keperluanku adalah untuk kepentingan ilegal loging dan pembukaan lahan sawit. Namun bodoh jika aku mengatakan sejujurnya.
“Baguslah jika tidak, saya sangat sedih sebenarnya. lahan berburu saya semakin menyempit karena hutan banyak ditebang. Jika hutan semakin menyempit, saya tidak punya tempat tinggal lagi dan anak-istri saya akan makan apa?” Ucapnya sambil menahan getir.
“Kenapa bapak tidak tinggal di desa saja, anak bapak bisa sekolah juga dan mendapat ilmu.”
“Saya lahir dan besar di hutan ini, saya tinggal secara pindah-pindah mengikuti hewan-hewan bergerak dan beranak pinak. Anak-anak saya tidak belajar dari sekolah, tapi mereka belajar dari alam. Alam yang akan mengajarkan merek untuk bertahan hidup.” Mengambil rokok milikku lagi dari bungkusnya, aku pun ikut menghidupkan rokok dan menyodorkan kopi milikku yang sudah dingin.
“Entah pak, dunia terus berkembang, dan kita harus mengiku alurnya. perlawanan sekarang hanya terdengar konyol jika melakukannya.”
“Saya akan terus bertahan dan melawan ketamakan orang-orang itu, termasuk anda!” Suaranya meninggi.
“Saya hanya sekrup kecil dalam kehidupan ini.”
“Beberapa hari ini anak saya sakit, dia mengeluh sakit perut usai meminum air sungai; padahal tidak ada masalah apapun pada saat kami meminum air sungai.” Ucapnya sedih.

Tentu saja dia sakit perut, air yang dia minum sudah torkontaminasi dengan limbah tambang. Tubuh mereka yang alami akan mudah sensitif dengan hal semacam itu. Dan orang ini juga bisa saja jatuh sakit setelah bertemu denganku; akibat virus atau apapun itu yang kubawa. Penyakit yang remeh untukku bisa mematikan untuknya.

Dia menambahkan lagi, “Apakah saya sebentar lagi akan mati.” Seolah membaca pikiranku.

Aku tidak menjawab, hanya terdiam. sibuk menghisap rokok. Saat kumelihat wajahnya, tiba-tiba dia menyengir tertawa kepadaku. Senyumannya membuat darahku terkesiap.

“Hahahaha…..” Dia tertawa dengan kencang. Matanya melotot, lalu dia memegang kepalanya dan kepala itu lepas, darah muncrat sampai mengenai wajahku. kepala itu terbang bersama jeroannya yang mengeluarkan cahaya merah redup.

Aku berteriak histeris sejadi-jadinya.

“Zul, bangun Zul….”
Mataku terbuka, kulihat Roni dan Beni melihatku heran.
“Mimpi apa kau?” Tanya Beni.
“Tidak ada.” Jawabku, sambil mengusap keringat.
“Kamu teriak gak jelas, tadi kamu dibangunkan susah sekali dan badanmu demam sambil menggigil”
“Lebih baik kita kembali saja.” Ucapku.

Matahari mulai menyingsing menerobos pekatnya hutan. Tidak ada yang menghalangi dan menanyakan apa yang kumimpikan semalam. Perahu kembali ke hilir, kusimpan rahasia itu bersama seisi rimba yang perlahan mulai ditututupi kabut.
Perahu berjalan dengan tenang, di tepian sungai kami sedang melihat sekelompok keluarga suku asli yang menonton kami. Dari kelompok itu, kulihat pria itu, sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ucapan ‘dadah’.

“Kencangnya speed boat” ucapku, dia ada di sini”.
Anjing, dalam hatiku, teror belum selesai.

Sebuah Memoar

Disela kesibukan saya mengaduk kopi dan menyajikannya kepada customer saya teringat kembali dengan sebuah asosiasi bebas: kolektif, atau apapun itulah namanya. Tahun 2019 Riot Klab awalnya hanya berupa coretan-coretan di dinding bersanding dengan tulisan konfrontatif seperti “bubarkan negara” dan semacamnya di kota Malang. Riot Klab sendiri sedari awal membawa nafas Anarkisme di dalam gerakannya; menggantikan pendahulunya seperti Komune Libertarian dan Kolektif Abu Bakar. Riot Klab sendiri terbilang lebih terorganisir dan memberikan kebebasan bagi tiap individu di dalamnya untuk bersuara dan berkarya. Tapi yang namanya sebuah asosiasi bebas, akan terjadinya sebuh fragmentasi adalah hal yang tidak bisa dihindari; perbedaan pendapat dan keluar masuknya individu entah karena perbedaan idealis atau beberapa individu yang ingin merusak asosiasi ini.

Terbilang tidak mudah membesarkan nama asosiasi ini, walau namanya sudah mulai tergaung di telinga beberapa kolektif lama di Malang Raya. Apalagi semenjak kami mulai memberanikan diri membuat acara gigs di tengah pandemi covid-19 yang masih merajalela pada waktu itu.

Menghitung usianya yang menginjak 4 tahun, Riot Klab masih berkibar walau terbilang sudah mulai agak enggan karena setiap individu di dalamnya mulai mengalami kelelahan. Kondisi politik, kriminalisasi, dan kenyataan dalam realita menampar kami untuk lebih realistis. Menurut saya itu suatu hal yang alamiah, toh Stirner juga mengajarkan tidak ada yang perlu dipertahankan mati-matian dari sebuah ideologi dan pergerakan, hanya individu itu sendiri yang tau batas kapan dia akan melakukan rehat dan kapan untuk mulai terbakar kembali.

Dalam catatan pribadi saya juga, kondisi geografis Malang yang berada di ketinggian dan cenderung dingin membuat manusia di dalamnya lebih terjebak dalam sifat asketism. Namun saya tetap mengapresiasi apa yang sudah kita kerjakan selama ini, entah ruang bebas uang; pasar gratis, graffiti, dapur umum, perpustakaan jalanan, gigs musik, kepenulisan, football culture, mengorganisir pelajar, puisi, lukisan, cinta, dan gelaran-gelaran acara yang bekerjasama dengan kolektif lainnya–membawa nafas pembaharuan–dari ekslusifisme anarkisme itu sendiri. Namun saya juga bersyukur dengan adanya website ini, dia akan menjadi rekam jejak setiap apa saja yang terjadi di dalam asosiasi ini.

Kawan-kawan juga sudah membangkitkan kebiasa baru, yaitu menonton anime setiap bangun pagi: hingga lahirnya Asosiasi Wibu. Dari kegiatan itu kami sudah menyelenggarakan dua diskusi daring dengan beberapa kolektif lainnya di luar Malang sendiri. Beberapa kawan juga sudah menelurkan antologi Cerpen yang sebentar lagi dicetak dan saya sudah tidak sabar juga untuk menunggunya, mengingat saya juga berpartisipasi di dalamnya; mengingat sudah lama setelah zine RK volume-3 dicetak. Semangat literasi perlawanan juga sudah masuk di ranah sepakbola dan seorang kawan sibuk mengedarkan dan mempromosikannya di Medsos.

Saat ini kami memang sedang tercera-berai mengikuti roda nasib. Namun komunikasi yang baik harus tetap dipertahankan, terutama untuk admin website ini yang kadang sibuk dengan revisi skripsinya ketika saya meminta memposting beberapa tulisan yang sudah selesai. Sisa-sisa semangat itu masih ada, dan kerja-kerja itu tetap berjalan, meski derunya tidak sekencang dulu. Sebagi mendaku secara sepihak sebagai Pemred di akun website ini, saya sangat berterima kasih kepada kawan-kawan yang masih setia membaca setiap konten yang ada. Inilah bangunan prasasti yang berusaha untuk terus abadi dan akan dikais sejarahnya untuk generasi selanjutnya.

Setelah itu, kita akan kembali kerealita, menjadi Sisifus yang membosankan–namun tetap elegan–sebagai individu yang seutuhnya.

Saya tunggu tulisan kalian di website ini.

TAKI

Belajar Mencintai Kucing

Hawa panas yang menusuk dari dalam bilik kamar yang gelap dan pengap ini, mungkin sudah sekitar dua bulan berada di sini. Kamar yang memnyembunyikan segala kesedihan dan keputus asaanku. Aku melarang segala cahaya untuk masuk ke dalamnya, sehingga aura negatif selalu bermunculan entah dari setiap sudut kamar atau buku-buku yang enggan kusentuh lagi.

. . .

Bulan berpendar dengan jelas malam ini, setelah beberapa windu sembunyi usai dihajar bertubi-tubi oleh gumpalan awan hitam. Tidak banyak yang dilakukan di musim penghujan ini, hanya suntuk mengeluh dan menghisap berbatang-batang rokok yang tiada ujungnya. Sementara ada hal lain yang menghantuiku, yaitu dihajar rindu disetiap sepertiga malamnya.

Namaya Selvi, aku bertemu dengannya pada saat musim durian yang menciptakan keriuhan dari penjuru pelosok dan setiap sudut kota. Sama halnya dengan durian, Selvi membuatku mabuk seketika pada pandangan pertama. Tampilan wajah yang oriental, badan berisi, kulitnya langsap dan keangkuhan seorang wanita muda yang membuatku tertantang untuk menakhlukannya.

Di taman pinggir sungai ini, aku duduk memaku melihat perahu mesin berlalu-lalang. Berbatang-batang rokok sudah menjadi puntung, dan bir di dalam tumbler yang sudah tak lagi dingin. Disaat suntuk-suntuknya aku menunggu, akhirnya kau datang dengan tampilan wajah lesu, walau paras ayumu masih tetap terjaga.

“Maaf aku terlambat” ucapmu.
“Tidak masalah, masih banyak waktu untuk kita berjumpa lagi.”
“Jangan konyol, seminggu lagi aku akan menikah. Dan kita akan sulit untuk berjumpa, dia adalah lelaki yang pencemburu,” ucapmu meyakinkan.
“Siapa yang tidak cemburu dan takut kehilangan jika wanitanya adalah secantik dirimu.”
“Jangan menggombal, itu hanya membuatku merasa bersalah meninggalkanmu.”
“Hahaha, aku selalu menerima kenelangsaan hidup ini.”
“Hidupmu penuh aura kegelapan, ingat, kamu bukan seorang filsuf, tinggalkan semua bukumu itu–dan tataplah kehidupan yang lebih layak–karena itu bisa mengarahkanmu pada arti kebahagiaan yang sesungguhnya” ucapmu.
“Bagaimana aku bisa bahagia jika orang yang kucintai juga pada akhirnya pergi meninggalkanku,” ucapku sangsi.

Hawa dingin bulan juli yang kering menusuk pori-pori, kamu lebih banyak diam, dan aku lebih banyak mengutuk diri dengan kata-kata terakhir yang kuucapkan.
. . .

Hari-hari berjalan seperti biasanya, aku bertemu denganmu lagi di taman yang berada di bantaran sungai itu. Senyumanmu yang dulu terlihat berbeda, sepertinya menyembunyikan kepedihan. Tangismu sontak pecah dan menyandarkan kepalamu di pundakku. Seperti biasa, aku hanya lebih banyak diam dan menghisap rokok.

Aku sudah tau dengan apa yang terjadi, si bajingan itu berulang kali menyakitimu, tetapi berulangkali pula kau memaafkannya. Sepertinya aku harus belajar mencintai kucing saja, wanita terlalu rumit untuk kumengerti.

Mimpi Sepuluh Malam – Natsume Soseki (1908)

Di terjamahkan : Declyere

 

Malam Pertama – Peringatan 100 Tahun

Inilah yang saya lihat dalam mimpi saya.

Saat saya duduk di samping tempat tidurnya dengan tangan terlipat di depan saya, wanita itu, yang berbaring telentang, mengatakan kepada saya dengan suara pelan bahwa dia akan mati. Rambutnya yang panjang dibentangkan di atas bantalnya, dengan wajah ovalnya yang berkontur halus berada di tengah. Bagian dalam pipi putihnya memerah dengan tingkat warna hangat yang tepat, dan warna bibirnya secara alami merah. Dia tidak tampak sekarat. Namun, dia mengatakan dengan jelas dengan suaranya yang tenang bahwa dia akan mati. Saya juga berpikir bahwa dia mungkin benar-benar mati. Jadi saya bertanya, melihat ke bawah padanya dari atas, apakah benar dia akan mati. Menegaskan bahwa dia akan mati, dia membuka matanya lebar-lebar. Matanya yang besar dan lembab, dikelilingi oleh bulu mata yang panjang, berwarna hitam pekat. Di dalam pupilnya yang hitam pekat, bayanganku sendiri melayang dengan sangat jelas Saat aku menatap ke kedalaman mata hitamnya yang berkilau, aku bertanya-tanya lagi apakah dia benar-benar akan mati.

Saat aku menatap ke kedalaman mata hitamnya yang berkilau, aku bertanya-tanya lagi apakah dia benar-benar akan mati.

Jadi saya dengan hati-hati mendekatkan mulut saya ke bantalnya dan bertanya lagi apakah dia tidak akan hidup, apakah dia tidak akan baik-baik saja. Dia menjawab dengan suara pelan, dengan mata gelapnya terbuka lebar tetapi lelah, bahwa dia akan mati, bahwa dia harus mati.

Saya bertanya dengan sungguh-sungguh apakah dia bisa melihat wajah saya. Dia tersenyum padaku dan menjawab, ya, tidak bisakah aku melihat diriku sendiri? Yang tercermin di matanya? Aku diam-diam menarik diri dari bantalnya. Saat aku melipat tanganku lagi, aku bertanya-tanya apakah dia benar-benar harus mati.

Setelah beberapa saat, wanita itu berbicara lagi.

“Tolong kuburkan aku setelah aku mati. Gali kuburan saya dengan cangkang tiram mutiara yang besar. Mengatur fragmen bintang, jatuh dari surga, di kuburanku sebagai penanda. Lalu tunggu di dekat kuburanku. Tunggu aku kembali.”

Saya bertanya padanya kapan dia akan kembali.

“Kamu tahu bahwa matahari akan terbit. Dan Anda tahu bahwa itu akan diatur. Itu akan naik lagi dan terbenam lagi. matahari merah akan melewati dari timur ke barat. Saat ia terbit dari timur dan tenggelam di barat, maukah kau menungguku?”

Saya mengkonfirmasi dengan anggukan bahwa saya akan melakukannya. Wanita itu membuat suaranya yang tenang menjadi lebih kuat.

“Tunggu aku seratus tahun,” katanya dengan nada tegas. “Tetap di sisi kuburanku dan tunggu selama seratus tahun. Aku berjanji untuk kembali.”

Saya hanya mengatakan kepadanya bahwa saya akan menunggu. Saat saya berbicara, saya melihat bayangan saya sendiri, terpancar dengan jelas di pupil hitamnya, dan itu mulai pecah. Saya menyadari bayangan itu mulai mengalir, seperti bayangan yang dipantulkan pada air yang tenang meski terganggu oleh sebuah gerakan.

Kemudian matanya terpejam, dan air mata jatuh dari bulu matanya yang panjang ke pipinya. — Dia telah pergi (menghilang).

Saya pergi ke kebun dan menggali kuburannya dengan cangkang tiram mutiara. Itu adalah cangkang besar yang halus, tepi dan tajam. Dengan setiap sendok bumi (sebuah cangkang mutiara), sinar bulan menghantam bagian belakang cangkang, membuatnya berkilau. Tanah ini lembab dan harum setelah beberapa saat kuburan digali. Saya menempatkan wanita itu di dalam dan tanah yang basah  mampu menutupi nya dengan lembut. Dengan setiap gerakan, sinar bulan menghantam bagian belakang cangkang.

Selanjutnya saya mengumpulkan pecahan bintang jatuh, membawanya ke kuburan, dan meletakkannya dengan ringan di atas bumi. Fragmen bintang itu bulat. Saya pikir ujung-ujungnya pasti dipakai dengan mulus selama jatuhnya yang panjang melalui surga. Saat saya memegangnya erat-erat untuk meletakkannya di tempatnya, lengan dan dada saya sedikit menghangat.

Aku duduk sendiri di sepetak lumut. Memikirkan penantian seratus tahun yang akan datang, aku menyilangkan tangan dan menatap batu nisan bundar. Matahari muncul di timur, seperti yang dikatakan wanita itu. Itu adalah matahari besar berwarna merah. Sekali lagi seperti yang dikatakan wanita itu, setelah beberapa waktu ia tenggelam di barat. Itu masih merah saat turun. Aku menghitung satu.

Setelah beberapa saat, matahari bersinar merah menarik dirinya kembali dengan berat. Kemudian diam-diam tenggelam kembali. Aku menghitung dua.

Saat saya melanjutkan dengan cara ini, saya kehilangan jejak matahari merah. Hitung meskipun saya mungkin, saya tidak bisa mengikuti semakin banyak matahari merah lewat di atas kepala. Seratus tahun belum datang. Akhirnya, menatap sekeliling batu yang sekarang tertutup lumut, saya mulai bertanya-tanya apakah wanita itu tidak menipu saya?

Saat ini, batang hijau muncul dari bawah batu dan menjulur ke arahku. Itu memanjang di depan mataku dan berhenti tepat saat mendekati dadaku. Yang mengejutkan saya, kuncup ramping tunggal dengan leher sedikit miring, bertumpu di ujung batang yang berayun lembut, membuka kelopaknya yang subur.

Bunga Lily putih bersih ada di depanku. Aromanya menggerakkan saya ke hidup saya. Kemudian embun tebal turun dari jauh di atas, dan bunga itu gemetar karena beratnya sendiri. Aku mencondongkan tubuh ke depan dan menempelkan bibirku ke kelopak putih yang meneteskan embun dingin. Saat saya menarik wajah saya dari bunga Lily, saya secara naluriah menatap ke atas, ke kejauhan ketinggian di atas, dan melihat satu bintang berkelap-kelip di langit pagi.

Saat itulah saya tahu – seratus tahun telah berlalu.

 

Terjemahan ini untuk Taki 13

Supaya dia bisa tidur di malam setelah pulang bekerja

Yang kuat ya Taki-kun

Bismillah Penerbitan آمين

Tentang Kematian

 

Saya merasa terjebak dalam penjara di dunia ini. Yang kurasakan sekarang hanyalah hawa kematian berada di sekeliling saya. Kulihat manusia-manusia yang sudah mulai kehilangan minat, nampak lesu, mengeluh, atau melemparkan kelakar yang menertawakan nasib mereka yang trengginas. Ya, salah satu cara untuk menerima keadaan untuk saat ini adalah dengan cara menertawakan diri sendiri. Sebenarnya aku selalu berfikir untuk mati muda, entah karena kecelakaan lalu lintas, atau karena bunuh diri; atau sebenarnya saya sudah mati, dan yang beraktifitas sekarang hanya arwah saya saja. Jika itu masuk akal, mungkin saja yang mati adalah semua harapan dan angan-angan yang dibangun begitu rupanya runtuh begitu saja bak menara Babel. Saya masih bisa bernafas, pernah mencoba untuk meraba dada sendiri, detaknya masih berjalan (oh, aku masih hidup). Namun hawa kematian itu selalu semakin terasa dengan bertambahnya usia dan perjalanan-perjalan pahit yang kurasakan.

Sungguh tidak menarik membicarakan kematian, itu adalah hal yang selalu ingin dihindari setiap orang. Manusia terlalu pengecut untuk mengakui bahwa mereka tidak abadi, lalu mencari pelarian dengan doktrin keilahian bahwa setelah kematian, ada dunia baru yang kekal dan penuh kebahagiaan, tidak seperti di dunia ini sekarang; walau kadang mereka ragu dengan pilihan tau pemikiran itu. Lagi pula, apa bedanya rasa anggur di dunia dan di surga?

Usai patah hati yang baru saja kurasakan, aku seperti mati rasa; aku seperti mengalami kelumpuhan otak—ragu akan eksistensi diri sendiri. Niatku untuk mati juga semakin bulat, mungkin karena beberapa hari ini aku sedang banyak membaca karya-karya sastra penulis nihilis atau anime yang beraura kegelapan.Hidup ini seperti misteri, aku bahkan tidak tahu apa-apa dengan apa yang terjadi sekarang, aku hanya merasa bahwa pasak sudah ditambatkan; dan ini sudah takdirku; tidak bisa dihindari lagi; yang bisa dilakukan untuk saat ini ya hanya berusaha menerimanya. Tidak, saya bukan Nietzsche dengan amorfati-nya, saya tidak mencintai takdir ini, saya hanya menerima kenelangsaan dan menstimulunnya sebagai sebuah hasrat yang membual dan penuh kearoganan.

Lalu bagaimana dengan bunuh diri? Aku masih belum berani melakukannya untuk sekarang, walau sebenarnya untuk saat ini saya tergila-gila dengan Dazai; tapi tidak, tidak untuk saat ini. Aku tidak ingin jasadku terlalu kotor, dengan banyaknya utang dan tanggung jawab saya kepada ibu saya yang seorang janda dengan dua adik tolol lelaki saya. Mungkin harus kutunda dulu. Jadi teringat penggalan lirik lagu milik kawanku, “apa arti bunuh diri jika aku bisa mati setiap saat”. Sebelumnya aku juga usai berbicara dengan kawan virtualku dari Jepang mengenai bunuh diri; dan jawabannya hampir sama dengan penggalan lirik tadi. Jadi yang kulakukan untuk sekarang hanyalah terus melanjutkan hidup sambil memaki kehidupan imi, dan bersembunyi dibalik kata-kata “ngene tog wes cukup”. Bajingan!!!!

Kembali ku teringat denganmu bunga krisanku, menjadi hal yang memilukan ketika melihat barang-barang peninggalanmu atau tempat yang pernah kita kunjungi atau lewati; semua mendadak menjadi emosional. Atau apakah aku harus mencoba hal atau hobi baru untuk melupakannya, setidaknya jika tidak bisa cukup dengan merelakannya. Mungkin aku bisa mulai menanam sakura, atau lily, tapi itu sukar untuk dilakukan, butuh ketelatenan dan bila boleh jujur, aku tidak suka merawat tanaman. Anna kareninaku, aku melihat kau begitu bahagia dengan lelaki barumu, dan orang tuamu juga sangat senang dengan kehadirannya, tidak seperti diriku yang kotor ini—manusia asing,hina,dan sangat menyimpang dengan kultur keluargamu yang bermartabat itu. Tidak pantas untukku terus menangisi hal-hal yang sudah terjadi. Tapi yang pasti, kau telah berhasil membunuhku; dan aku akan menjadi pribadi yang berbeda. Untuk menghindari kenelangsaan ini, aku harus cepat beranjak dari pulau Jawa ini, mungkin ke Sumatra atau Kalimantan, katanya di sana adalah tempat yang bagus untuk orang yang sedang mengalami patah hati. Jawa begitu menyesakkan hari-hari ini, dan kota ini mulai asing padaku. Aku dihinggapi rasa penuh dengan kehampaan, hatiku menjadi gelap dan kadang aku suka mengigau di tengah malam.

Angin malam berhembus dengan lirih, suara genteng berderik, dan dahan pohon yang mengibas kesana kemari. Tidak ada perayaan untuk kematian di malam ini.

 

 

Taki 13

Riot Klab Zine #4


Kalian nyangka gak sih Riot Klab nerbitin Zine setiap bulan? Bahkan sampai edisi ketiga!

W gak nyangka anjim – asu – kirek (copy caption dari zine 3)

Lah yo

Zine ini kami dedikasikan untuk kesepian yang abadi
#Np Slank – Terbunuh Sepi

Wes ga usah fafifu wasweswos
Unduh Riot Klab Zine #4 yaa

Review film Easy A (2010)

Oleh: Ceva

 

Judul                   : Easy A

Tahun                 : 2010
Genre                   : Comedy, Drama. Romance
Durasi                : 1 jam 32 menit
Disutradai oleh   : Will Gluck
Diproduksi oleh    : Zanne Devine, Will Gluck

Penulis naskah   : Bert V. Royal
Pemain                  : Emma StoneStanley TucciPatricia ClarksonThomas ​​​​    Haden ChurchDan ByrdAmanda BynesPenn ​​​​​    BadgleyCam GigandetLisa KudrowAly Michalka, Negara      ​​   : Amerika Serikat

 

 

Menceritakan kehidupan gadis SMA yang cerdas namun “biasa saja cenderung tidak populer” bernama Olive, yang diperankan Emma Stone. Olive memiki teman yang yang sifatnya sangat berkebalikan, Rhi: yang bebas, binal, dan biasa bergonta-ganti pasangan, sementara Olive masih dan hanya menyukai satu teman masa kecilnya, Todd, yang ia tolong dengan berpura-pura menciumnya di dalam kamar saat pesta akhir pekan.

Masalah dimulai ketika Olive berbohong dengan pergi berkencan di akhir pekan untuk menolak ajakan Rhi untuk makan bersama keluarganya yang agak aneh. Keadaan semakin ruyam ketika Rhi menuntut Olive untuk bercerita tentang kencannya dan mengaku bahwa ia telah kehilangan keperawanannya bersama lelaki khayalan yang baru masuk kuliah. Sambil menyeret Olive ke toilet sekolah. Rhi memukul Olive, membuat Olive akhirnya berbohong dan mengarang cerita tentang seks. Cerita mereka tidak sengaja di dengar oleh siswi fanatik, Marianne, yang mengetuai kelompok religius, yang suka memaksakan pendapat mereka kepada orang lain. Otomatis itu menjadi bahan kajian mereka dan karenanya hal tu tersebar ke penjuru sekolah dengan sangat cepat, bahwa Olive sudah tidak perawan… Tapi ya. Kita tau mulut orang-orang di sekolah suka menambah-kurangi rumor yang beredar.

Tentu saja hal tersebut mempengaruhi pandangan satu sekolah terhadap Olive dan perlahan mempengaruhi pandangan Olive. Namun Rhi tetap bangga karena ia memiliki teman murahan yang sama seperti dia.

Hingga Olive bertemu teman lamanya yang gay, Brandon pada saat melakukan bersih-bersih sekolah sebagai hukuman. Ketika saling berbagi “kenyataan”, terdapat hal yang menyadarkan Brandon: Ia lelah di bully karena seksualitasnya, dan bagaimana ia melihat Olive menjadi sangat popular. Brandon sadar jika ada rumor tersebar bahwa ia melakukan seks dengan  Olive yang dikenal sebagai “high school slut” maka ia tidak akan di bully lagi. Akhirnya mereka mengulangi masa lalu Olive sekali lagi: berpura-pura melakukan sesuatu di kamar, di rumah seseorang saat pesta akhir pekan. Tentu dengan bayaran yang hampir sama dengan menyewa pelacur sungguhan. Informasi bocor, hingga datang berbagai pelanggan yang kebanyakan adalah korban bullying, membayar mahal Olive untuk melakukan “percumbuan, seks, dan oral khayalan” untuk menambah popularitas dan menunjukkan “kejantanan” para korban bullying.

Sering kita jumpai suatu karya sastra sebagai pelajaran di kelas punya hubungan kuat dengan kehidupan drama SMAmu. Hal yang sama terjadi pada Olive dan film jadul berjudul The Scarlet Letter yang bercerita tentang Hester Prynne, seorang gadis yang berselingkuh dengan pendeta.  Kita lihat, yang bersenggama bukan hanya Hester, tapi juga Si Pastor. Namun apa yang dilakukan masyarakat hanya mempermalukan Hester dan memaksanya menggunakan huruf A merah di dadanya sebagai simbol “pezina” (adultery). Hal yang sama dilakukan Olive, ketika Rhi menganggapnya “pelacur murahan” juga , tentu Olive tidak terlalu peduli ketika orang lain mengiranya begitu namun beda ceritanya ketika sahabatnya mengira begitu. Ia marah, cukup marah untuk merealisasikan pandangan orang lain padanya: menjadi perempuan binal. Keesokkannya ia menggunakan pakaian super ketat, super minim dan menjahit huruf A merah pada payudara sebelah kirinya sebagai simbol.. entahlah kalian bisa mengira itu simbol perlawanan atau “pezina” .

Bagaimana kelanjutannya? kalian bisa menontonnya sendiri, dan menguak kebohongan kotor yang tepoles cantik di masyarakat.

Banyak pesan moral yang dapat dipetik disini. Bagaimana masyarakat tidak seharusnya mudah termakan post truth (informasi yang kebenarannnya belum di pastikan namun dipercayai karena dikatakan oleh tokoh-tokoh tertentu yang berpengaruh), keperawanan adalah urusan pribadi dan masyarakat yang tidak ikut merawatnya maka tidak perlu ikut campur. Marianne merepresentasikan kelompok fanatik, anti-toleran yang menggoreng isu bahkan lebih parah; Rhi perempuan binal yang merasa kesal karena popularitasnya tersaingi oleh temannya sendiri yang bahkan kekasihnya lebih memilih Olive yang berdada lebih kecil dari Rhi; Brandon sebagai sebagian kecil  dari kelompok yang harus menyembunyikan jati dirinya agar bisa diterima oleh masyarkat. Pacar Marrianne yang terlambat lulus dan tertular klamedia (penyakit seksual) dari guru BK Olive, namun menuduh Olive sebagai pelacur yang menularkannya dan menunjukkan bahwa Olive tidak akan pernah dipercayai lagi.

Jika dipikir-pikir, hanya lelaki yang tidak dipermalukan masyarakat di sini.. bahwa kebabasan terkait seksualitas hanya milik mereka.  

Lelaki Malang

Aku tidak terlalu pandai dalam mengglorifikasi rasa sakit karena patah hati. Namun rasanya perlu kubagikan cerita ini kepada kalian.
Aku menyebutnya sebuah tragedi. Tragedi yang sangat memilukan; dan sangat sulit kulupakan hingga sekarang. Aku masih ingat bagaimana matanya berlinang usai berjabat tangan denganku.
Aku sudah lupa, berapa botol yang sudah kutenggak untuk bisa menguatkan mental menghadiri acara resepsi itu. Resepsi seseorang yang kucintai, seseorang yang pernah menjalin tali kasih bersamaku, seseorang yang selalu menjadi kawan bertukar puisi, lalu tiba-tiba sekarang dia bersanding dengan orang lain.
Orang asing yang tiba-tiba hadir lalu merebutnya dariku. Bermodalkan kekuasaan dan harta, dengan mudahnya ia merebut perempuan yang sudah kuperjuangkan selama bertahun-tahun. Sungguh, ini licik, picik, taik.

Pada umumnya pondok pesantren, kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasannya. Tiada waktu untuk bersenang-senang, masa menempuh pendidikan di pesantren adalah bagaimana cara kita bisa memanfaatkan waktu sebanyak-banyak untuk belajar, yang kelak ilmunya bisa bermanfaat untuk dunia dan akhirat.

akhirat.
Pondok pesantren kami berdiri di sebuah kecamatan kecil di pojokan kabupaten Tuban. Dalam sistem pengajarannya, sudah menerapkan semangat modernitas, tapi yang pasti ilmu agama masih menjadi prioritas.
Hidup menjadi santri bukan semata-mata pilihanku.
Ini semua karena keinginan ibu, yang berkeinginan aku kelak akan menjadi orang yang alim dan menjadi panutan keluargaku kelak. Selain ada harapan lain seperti aku dielu-elukan akan menjadi penerus– pengurusan masjid di desa.
Sungguh harapan yang bisa dimaklumi, jika melihat banyak kawan sebayaku yang lebih banyak memilih belajar di sekolah umum atau putus sekolah untuk merantau ke kota besar sebagai kuli bangunan. Belum lagi kekhawatiran dengan pergaulan mereka yang hobi mabuk-mabukan dan balap liar.
Namun bagiku sendiri itu terlalu berat sebagai remaja yang masih ingin bersenang-senang dan merasakan kebebasan seperti anak seusiaku pada umumnya, tidak terbelenggu dalam sistem pendidikan yang ketat nan feodalis seperti ini. Mungkin aku tidak menyukai motor atau balap liar seperti kawan-kawanku di kampung. Aku lebih menyukai musik, terutama musik yang bernafaskan pemberontakan. Demi melampiaskan kesukaanku pada musik, berulang kali aku kabur dari pondok untuk sekedar menghadiri acara gigs di gedung kecamatan atau bahkan

menghadiri acara gigs di gedung kecamatan atau bahkan luar kota bermodalkan nekat dan mencegat dari truk satu ke truk lainnya. Dan aku melakukannya dengan gairah, berharap bisa menatap langsung sang idola bernyanyi
di atas panggung. Sebuah capaian yang setimpal jika sampai-sampai kejadian kepala dibotak oleh pengurus karena kabur dari pondok.
Tapi dari sekian perbedaanku dengan kawan-kawan selain soal pendidikan dan motor, semua itu bisa ditutupi dengan kegemaran kami mengkonsumsi arak atau tuak. Kami bisa mabuk di mana saja, di pos ronda; depan toko cina; trotoar jalan; warung kopi; di mana pun’ itu selama lokasinya nyaman. Jadi bukan suatu hal yang aneh jika setiap malam hari raya kami berkumpul mabuk sampai teler, dan paginya berjalan terhuyung-huyung untuk menunaikan salat ied.

Walau terkenal banal, namun diriku memiliki kepintaran
di atas rata-rata, jadi diriku sering dikirim menjadi perwakilan pondok untuk mengikuti kejuaraan di
kota kabupaten. Dari lomba itulah aku dipertemukan dengannya. Ceritanya kami akan dilombakan untuk melakoni cerita cinta Roro anteng dan Joko Seger. Mungkin disitulah benih cinta mulai muncul. Banyak kawan yang menjodoh-jodohkan kami dan akhirnya itu keterusan sampai kami jadian.
Sungguh awal kisah yang berkesan, namun berujung tragis.

tragis.

Langit menggelayut, awan berarak, dan mulai menggelap. Di taman yang remang, dia hanya menunduk lesu sambil terisak. Masih teringat kalimat perpisahan darinya, “Jangan mencari aku lagi.” Aku hanya bisa menarik nafas panjang, menghidupkan rokok dan lebih banyak diam.
Pikiran melayang tentang bagaimana ratusan kilo kulakukan untuk menemuinya demi mengucapkan selamat ulang tahun di pinggir jalan yang membelah pematang sawah. Bisa kubayangkan teriknya matahari siang itu tidak berkutik menghadapi dua manusia yang sedang kasmaran. Masih kuingat juga bagaimana kusiasiakan beasiswa menempuh pendidikan di ibukota hanya
demi untuk terus bersamanya. Sudahlah, aku malah mengungkit pilihan-pilihan yang seharusnya kulakukan dengan tulus.

“Kenapa kau tidak menolaknya?”
“Aku tidak punya pilihan” masih terisak.
“Disuatu hal yang segenting ini kau tidak berani memilih hal yang sangat berpengaruh untuk masa depanmu?” “Aku hanya wanita mas”
“Apakah aku hanya lelaki yang harus pasrah dik?”
Tidak ada lagi pembicaraan. …

Semerbak udara berdebu mencekat tenggorokanku. Ini sudah dua tahun berlalu, tapi ketika aku mengingatnya mengapa begitu sesak dan ini sangat mempengaruhi psikologisku. Aku memgakui sudah tidak mencintainya, hanya mengenang saja. Cukup.
Perjodohan atau yang disebut kawan-kawan kuliahku sebagai pelacuran legal adalah hal-hal yang masih dipertahan masyarakat sampai sekarang, terutama masyarakat konservatif. Mungkin aku hanya bisa menertawan nasibku ini, tapi tidak tau kalau itu terjadi juga padamu.

Sebuah Keputusan

Di tulis oleh bsky

Sinar mentari masuk lewat celah-celah papan kecil ini. Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi yang pasti hari sudah siang.

Sungguh tak tau diri, semua orang sudah tidak ada. Jendela masih tertutup, pasti ibu sengaja tidak membukanya, agar wajahku tidak berkontak langsung dengan pekatnya sinar matahari; atau mungkin saja ia malu jika ada orang melongo dari luar dan melihatku masih terlelap. Dasar pikiran jelek.

 

Keluar kamar kupandangi seisi rumah, pendul menunjukkan tepat jam 12.00. Bingo, apakah itu sebuah kebetulan, aku pun tak tau. Yang pasti sebentar lagi adikku pulang dari sekolahnya–membawa tampang kuyu karena kelelahan usai berjalan kaki di bawah teriknya matari.

 

Setelah itu dilanjut ibuku yang pulang dari kebun. Membawa peluh dan kejenuhan usai menyayat pohon karet yang berjejer tak habis-habis.

Sebelum aku menyadari ketidak bergunaan ini, terlihat tumpukan piring kotor yang tak terjamah, ada baiknya segera kucuci. Aku tak ingin melakukan satu kegiatan saja, segera kusambar sebuah sapu, lagian rumah ini tidak terlalu besar, jadi tidak terlalu menguras tenaga. Namun ini semua masih belum cukup, ada beberapa pohon karet yang belum digores. Segera  kuambil pehet untuk menoreh beberapa pohon yang ada di sekitar rumah ini, lagian toh tak terlalu banyak juga jumlahnya.

 

Aku menyadari bahwa aku adalah seorang pemalas, dan aku mengamini itu. Aku tak ingin berguna kalau itu hanya membebani diriku sendiri. Tidak ada salahnya juga to.

 

Lumayan juga usai menandaskan beberapa pohon karet ini. Tidak bisa kubayangkan jika kubandingkan dengan beberapa tetangga yang memiliki beberapa kebun dan ratusan pohon karet, bagaimana jenuhnya mereka menghadapi pohon karet yang berjejer lurus seakan-akan tidak ada habisnya. Mungkin tampak menggiurkan untuk hasilnya jika sudah dipulung dan ditimbang pada tengkulak, namun jika harga getah turun dan ada maling karet berkeliaran menyabet segala hasil jerih payah mengisi beliwang sampai terisi penuh, bisa gigit jari mereka. Terbayang bagaimana membayar utang atau angsuran sepeda motor yang sedang menanti.

 

Sangat sering aku mendengar dari orang tua, saudara, tetangga, bahkan sebuah lagu bahwa “tidak ada masa depan yang cerah untuk seorang penyadap karet”. Penghasilannya hanya cukup untuk makan dan membayar utang, tidak ada kesempatan untuk menabung. Jika ada keperluan mendadak seperti membayar biaya sekolah, sakit, bahkan kematian terpaksa memutar otak entah itu mengutang lagi atau yang paling menyesakkan adalah menjual kebun. Setelah tidak ada lagi kebun yang tersisa, terpaksa memburuh untuk menggarap kebun orang dengan sistem bagi hasil, itu pun penghasilannya tidak seberapa.

 

Itulah mengapa pada saat kelas 3 sekolah dasar ibuku memarahiku karena mendapat laporan; pada saat ibu Ani mengajar menanyakan tentang cita-cita, beberapa kawanku menjawab dengan mantap ingin menjadi guru, polisi, tentara, dan beberapa cita-cita pasaran lainnya. Namun pada saat giliranku, dengan entengnya aku menjawab bercita-cita ingin menjadi seorang pemantat karet(bahasa Maanyan untuk menyebut menoreh/menyadap karet).

 

“Kog bisanya kamu mau jadi penyadap karet,” Ujar ibuku muntab, “masak dari buyutmu, kakekmu, sampai ibumu jadi penyadap karet semua. Gak ada yang mau memperbaiki nasib.” Dan beberapa kata yang memberondong menghakimiku.

Walau aku tau itu adalah bahasa klise yang diucapkan ribuan orang tua di daerahku kepada anaknya agar giat belajar dan bersekolah yang tinggi dan kelak akan menjadi orang yang sukses walaupun itu dengan cara menipu, yang terpenting bisa memperbaiki atau membangun citra orang tua.

 

* * *

 

Hari kian terik saja, sang surya seperti tepat di atas kepala. Sebenarnya tidak benar menyadap pada siang hari, karena getah karet pasti tidak lancar mengalir dan cepat kering, hanya melakukan pekerjaan yang sia-sia saja.

 

Ah, persetanlah, yang terpenting aku melakukannya agar tidak terlalu terlihat sebagai orang yang tak berguna. Sebenarnya aku juga muak dengan bau karet yang tak sedap ini dan terkenal susah hilang aromanya walau sudah dicuci sebersih mungkin. Biasanya orang di tempatku menggunakan minyak tanah untuk menghilangkan aroma tak sedap dari karet. Namun dengan beralihnya kompor kayu ke gas penggunaan minyak tanah semakin kurang dan mengalami kelangkaan, mungkin banyak yang beralih ke bensin. Ah, persetan lagi dengan bau karet, hidup para penoreh karet itu sudah susah, tidak ada waktu untuk memikirkan baunya–kalau sudah menimbang dan uang segera dicairkan.

 

***

 

Badanku sudah bermandikan peluh, sepertinya melakukan ritual mandi terlihat nampak menyenangkan. Di sini tidak ada yang lebih menyenangkan selain mandi dan menceburkan diri di sungai. Segera kusambar gayung dan handuk. Kesenangan kecil ini jangan disia-siakan.

 

Usai menyegarkan badan di sungai segera kuberanjak kembali di rumah. Kulihat ibuku dan adikku sedang makan siang dengan seragam masih melekat di badan.

 

“mamat, makan.” Ujar ibuku.

“Iya” menhampiri.

Ibuku segera menyiapkan nasi di piring, sembari menunggu aku  yang sedang berpakaian.

“Aduh belum sarapan aku tadi.” Keluhku.

“Ariii, kenapa gak sarapan?”

“Nggak tau, belum lapar aja tadi”

“Ulah, salah kamu sendiri” sambil menyodorkan piring berisi nasi yang masih mengepul.

 

Sedang nikmat-nikmatnya menikmati hidangan oseng-oseng sulur favoritku, akhirnya pertanyaan itu tiba juga.

 

“Jadi bagaimana rencanamu setelah memutuskan untuk keluar dari kuliah ini, ibu sudah tidak kuat lagi menahan cibiran orang luar?” Sambil terisak, tidak kuat menahan tangis.

 

Aku masih diam saja. Masih kuingat keputusan sepihakku untuk memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Persetan dengan kampus pencipta para predator sexs ini. Mereka tidak mengakui kesalahan mereka, kenyataanya mereka justru menutup-nutupi kesalahan dengan dalih nama baik almamater dan yayasan. Dan sampai saat ini sang penjahat masih berlenggang bebas tanpa tanpa ada yang menghalangi, dan bisa saja dia masih mencari korban selanjutnya.

 

Setelah mengetahui kebejatan seorang dosen yang telah melakukan pelecehan seksual pada seorang mahasiswi, aku dan beberapa kawan memutuskan untuk mem-blow up kasus ini lewat media pers mahasiswa. Sebagai seorang pemimpin redaksi saya sudah menebak, mengangkat isu sensitif seperti ini pasti akan menuai kecaman, walaupun aliran simpati juga berdatangan dan mengutuk sang pelaku, tapi pihak kampuslah yang punya kuasa dalam memutuskan.

 

Gerakan advokasi dan menggalang solidaritas lewat media sosial dan petisi terus mengalir. Namun itu hanya seperti angin lewat belaka. Kasus kian tenggelam, dan semua orang perlahan-lahan mulai lupa. Lupa. Lupa adalah penyakit.

 

Setelah itu hari-hari dipenuhi teror oleh pihak kampus, tidak hanya lembaga pers yang kunaungi terancam dibekukan, tetapi sebagai salah satu penanggung jawab dalam redaksi aku pun mengalami kendala dalam proses pembuatan skripsi. Ada satu syarat agar aku bisa melanjutkan skripsi lagi, yaitu meminta maaf pada orang yang kutuduh sebagai pelaku pelecehan, dan mengahapus semua konten tulisan yang berisi kritik pada kampus.

 

Sepertinya aku makin muak saja dengan apa yang terjadi. Mereka hanya bersembunyi di balik kedok nama besar institusi pendidikan agama, namun nyatanya di balik itu mereka hanyalah para penyamun yang siap menghabisimu kapan saja.

Segera kubanting pintu kantor dosen itu, tanpa salam; tanpa memandang ke belakang. Kutinggalkan mereka selamanya.

 

Segera kukemas barang-barangku di kos yang hanya sedikit itu. Ada beberapa buku yang mustahil untuk kubawa. Segera ku-packing, kira-kira ada empat kardus. Aku bingung akan kuapakan. Sedikit menimang-nimang akhirnya kuputuskan, satu kardus kusumbangkan ke salah satu Perpus jalanan yang sangat membutuhkan koleksi buku.

Lalu kukeluarkan lagi buku-buku itu berdasarkan buku penting dan buku biasa(menurutku) dengan perasaan berat hati dalam memilihnya.

Akhirnya kuputuskan satu kardus akan kubawa, sedang dua kardus lainnya akan kujual ke salah satu kawanku seorang penjual buku bekas. Dengan sedikit paksaan dan iming-iming ada beberapa koleksi buku yang langka, akhirnya aku mendapatkan uang yang kurasa lebih dari cukup untuk bisa pulang.

 

***

 

Setelah kapal ditambatkan di dermaga pada saat langit sedang merah-merahnya menyisakan setengah matahari di cakrawala. Aku sampai juga di pulau ini, diiringi sambutan di depan pintu keluar oleh para tukang ojek jasa travel yang tentunya aku tolak dengan sopan.

 

Sialnya, kawanku tak kunjung datang. Padahal aku sudah menghubunginya sedari tadi pada saat kapal masih mendekati pelabuhan. Berbatang-batang rokok sudah kuhabiskan, kopi yang kupesan di salah satu kedai kecil yang kusinggahi juga sudah tandas.

 

Tiba-tiba muncul motor dari arah barat, barat? Sejak kapan aku tau arah mata angin?

 

“Sorry mas, tadi lagi macet parah, inikan lagi jam orang pulang kerja, lagian aku lagi gak ada paket. Jadi aku keliling-keliling dari tadi cari sampean.” Ujarnyanya meyakinkan.

“Ahh, terserah kamulah, dari dulu kamu memang gak beres. Yang penting aku menginap di kosmu untuk malam ini”. Ujarku sedikit jengkel.

 

Nama seseorang yang menjemputku adalah Duwik, anak dari sahabat bapakku pada saat mereka merantau ke Kalimantan. Sekarang dia menempuh pendidikan di salah satu kampus kenamaan di Banjarmasin. Beruntung juga dia dengan tingkat kepintaran yang tidak terlalu. Ya, orang beruntung bisa di mana saja.

 

“Kenapa balik Kalimantan mas?” Tanyanya.

“Aku suda D.O dari kampus,” sebelumnya dia tidak kuberitau kalau sudah berhenti dari kampus laknat itu.

“Wah, gak sayang itu, padahal tinggal wisuda aja”.

“Biarkanlah, aku sedang tidak ingin membicarakan itu.”

“Wah, iya maaf gak jadi tanya kalo gitu.”

 

Ternyata Duwik ini lumayan cerdas juga bagaimana cara untuk mengulik alasanku untuk kembali ke Kalimantan. Segera dia berhenti di salah satu toko kelontong dan dengan cengengesan sudah membawa tiga botol anggur. Setelah berkelok-kelok menerobos gang yang masih beralas papan kayu untuk menghindari kemacetan, kami akhirnya sampai di sebuah kampus.

 

“Loh, kog kita malah ke UKM sih?” Ucapku bingung.

“Gpp mas, kita malam ini tidur di sini aja. Sekalian sampean ngisi materi jurnalistik”. Sambil terkekeh.

“Brengsek kamu ya, nyulik aku.” Tidak habis pikir.

 

Walau sebenarnya aku sudah tau, culik menculik di pers mahasiswa sebagai pemateri adalah sebuah budaya yang sudah langka. Beberapa lembaga pers mahasiswa sekarang lebih suka mengundang selebgram yang nyambi sebagai penulis demi meraih oplah pengunjung yang datang pada saat acara sastra. Atau aku hanya sinis?

 

“Kog bisa kamu masuk pers?” tanyaku penasaran.

“Ya gara-gara sampean lah. Siapa lagi?..” kembali terkekeh.

“taek kamu, jangan terpatron. kill your idol” ucapku emosi.

“Sudahi quote-nya, mending sampean cerita kenapa keluar dari kampus?”

“Jadi gini ceritanya (……)”

“Udah ngomong orang tua?”

“Belumsih, makanya aku bingung”.

“Gapapa, dipikir sambil ngombe aja” terkekeh lagi.

“Wooo jancuk”.

 

***

 

Ternyata setelah pertemuanku dengan Duwik bukan jadi pertemuan terakhir perjalananku untuk pulang. Setelah kutimang-timang, akhirnya aku memutuskan untuk mengelilingi Kalimantan, mungkin ini adalah perjalanan yang terinspirasi dari seorang tokoh dayak bernama Tjilik Riwut yang melakukan perjalanan mengelilingi Kalimantan yang pada saat itu kondisi aksesnya perjalanan masih sangat sulit, berbeda dengan kondisi sekarang; walau masih ada beberapa daerah yang masih belum terjamah oleh kendaraan alat berat.

 

Dengan beberapa uang yang masih tersisa, kuputuskan untuk memulainya dari arah barat dari Banjarmasin menuju Palangkaraya. Setelah itu berlanjut ke Kinipan di ujung barat Kalimantan Tengah. Dengan lika-liku interaksi yang kualami, berinteraksi dengan beberapa individu dan latar belakang hidup yang berbeda membuatku semakin meledak; sebagai orang yang mendaku sebagai egois ini sungguh menyakitkan.

 

Perjalanan berlanjut dari hulu Kapuas sampai ke hilirnya di Putussibau. Di sana aku bertemu kawan bernama Bimo yang sedang melakukan riset antropologi perihal orang dayak yang masih menjalankan kehidupan komunal dan tinggal di sebuah rumah betang. Di sana mungkin aku bisa membantu beberapa hal seperti membantu mencari data atau sekedar ikut warga berburu menggunakan alat tradisional sumpit.

 

Hal gila lainnya aku menembus belantara pegunungan tengah Kalimanntan bernama Muller untuk menemukan hilir mahakam dan sampai di kota Samarinda. Dan beberapa perjalanan lainnya yang tidak bisa penulis masukkan ke dalam cerita ini.

 

Setelah melakukan perjalanan yang sebenarnya tidak ada habisnya itu. Akhirnya sampailah aku di rumah dengan keadaan kumal dan kurus kering setelah hilang tanpa ada kabar beberapa tahun. Perjalanan yang menyakitkan. Kepanasan; kehujanan; kelaparan; namun semua itu tidak yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan tangisan ibuku.

Aku hanya bisa bersujut dan minta maaf. Tidak lebih.

 

***

 

Pendul jam kembali berdetak dari lamunanku.

 

“Jadi bagaimana maumu?.” Tanya ibuku sambil terisak.

“Aku sudah memutuskan diri untuk menjadi penyadap karet, mungkin aku juga akan mulai memanfaat lahan untuk ditanami agar kita tidak bertahan hidup dari karet saja. Mungkin ini terlihat naif, tapi aku yakin sesusah apapun hidup kita–aku berjanji setidaknya–tidak kelaparan setiap harinya.” Ujarku mantap.

 

Dalam hati kecilku. Aku berjanji membahagiakanmu ibu. Aku pernah membaca sebuah buku, pada judul buku itu tertulis “Hidup itu indah, dan hanya itu yang kita punya”.

Negara Ini Bangsat dan Kalian Harus Mengakuinya

Tulisan ini hadir karena polah para bajingan-bajingan sungguh sudah melewati batas kompromi saya, pembaca. Maka tidak akan kepalang tanggung saya memberikan sumpah serapah berupa bangsat, anjing dan makian lainnya untuk mereka yang berada di dalam bentuk sistem paling kotor di muka bumi ini. Tidak akan saya peduli siapapun orang yang berada di dalamnya. Entah itu keluarga, teman, atau bahkan sahabat. Intinya, core of the core, jeroannya adalah negara ini bangsat berserta segala tetek bengeknya.

Persetan istana negara, semoga kehancuran menyertai gedung reot nurani itu. Tai kucing untuk para aparat yang dengan sangat ciamik membuat coretan tembok keresahan sebagai dalih penangkapan juga pemberangusan ketenangan hidup kawan-kawan kami. Pembungkaman yang sangat menjijikan. Kehinaan pun ada pada tiap tapak jejak sepatu lars mereka yang melindungi jalannya kursi roda negara, berkedok uang, perut, dan kuasa. Tidak tanggung mereka melayangkan pentungan pada tiap kepala petani, atas nama tempat latihan militer. Bangsat bukan!? Tentu saja itu bangsat!? Tak perlu para pembaca mengakui, biar saya yang mengakui itu. Kontol! Ngentot!

Sekarang mari berkenalan dengan para pencipta keteraturan, pembangunan, sampah, dan kelicikan. Pada gedung tempat senior mahasiswa endorse sopi itu adalah awal kerusakan ruang hidup, semua kerusakan berawal dari ruang-ruang tempat mereka menyebut diri sebagai pemangku kebijakan paling adiluhung. Pada tempat itu mereka dengan sangat leluasa mempreteli aturan agar sesuai dengan keuntungan dan tentu saja untuk langgengnya kekuasaan mereka.

Tangis ringkik para penuntut hak tidak akan pernah digubris, memang sudah dianggap goblok kawan-kawan kalian itu, pembaca. Tidak ada mereka mengenal hak, demokrasi, tai babi, hutan rimba, mereka persetankan semua. Benar kata Tanasaghara bahwa tidak akan pernah ada negara yang mau berbuat baik. Megabacot mereka saja perihal mewakili rakyat, sekali lagi dengan girang saya menghujat mereka. Anjing! Fuck! Eat your nation shit moron!

Maka biarkan saya membuat kalian tersesat dalam kebencian tulisan ini. Benturkan saja kepalamu jika masih ada kata negara di dalamnya. Buang bukumu jika masih ada kata negara di dalamnya, silahkan robek halaman zine yang tercatut kata negara ini ketika kalian selesai membacanya. Bakar semua hal yang berseluk beluk negara. Sekali lagi saya minta ketika pembaca selesai membaca tulisan saya ini, robek dan bakarlah dengan korek api milikmu. Saya sendiri sangat membenci tulisan ini. Maka relakanlah kegilaan in terbakar berasamamu, hidupi-hidup kalian para pembaca, dengan mengakui bahwa negara itu benar-benar bangsat keberadaannya.

Penulis: Maferanren

[Tulisan ini rencananya akan didistribusikan oleh penulis untuk zine Riot Klab edisi ketiga]