Gulma

Entah sampai kapan perjalanan menggunakan perahu boat ini akan selesai. Di sungai yang mengalir dengan tenang ini, bisa saja di bawahnya menciptakan sebuah rahasia yang tidak kumengerti. Semakin ke hilir sungai semakin menyempit dan bermunculan riam di kiri kanannya. Belantara hijau tersaji di kiri-kanan. Dikondisi semacam ini, cuaca semakin tak menentu. Gambaran hutan hujan tropis dengan vegatasi padat semacam ini tak akan mengijinkan matahari menyembul masuk. Hujan juga kadang muncul begitu saja, air yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah menjadi gemuruh air berwarna kecoklatan dan membawa isi material dari hilir yang membahayakan perjalanan.
Hujan benar-benar turun, perjalanan terpaksa diberhentikan dan mengingat hari yang sudah mulai petang, kami mendirikan tenda darurat dari terpal dan membuat hidangan makan siang. Roni sebagai kawan dan menjadi tour guide dadakan segera menanak nasi dan Beni sibuk mendokumentasikan momen itu. Sedang aku mememilih membaca buku Kura-Kura Dalam Tempurung pemberian seorang kawan dari Jawa.

Hujan semakin deras, bahkan kami harus berkomunikasi dengan berteriak karena suara air yang menimpa terpal menciptakan musik yang terdengar noise. Debit air sungai juga semakin naik. Dari hasil kesepakatan bersama, sambil menikmati hidangan makanan siang, kami memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan perjalanan pada pagi-pagi buta.

Malam ini aku tidak bisa tidur, ditemani api unggun yang hanya menyisakan tumpukan bara dan api kecil yang menjilat-jilat. Kulihat Roni tidur dengan pulas sambil memeluk parang, dasar, dalam kondisi tidur pun dia siap siaga. Sedangkan Beni dengan badannya yang bongsor itu mengorok dengan kusyuk, sungguh aneh mengingat dia orang kota dan baru pertama kali tidur di rimba bisa setenang itu menikmati malam.

Malam makin larut, kulirik arloji menunjukkan pukul dua belas. Aku sudah mulai jenuh dan enggan menyelesaikan buku yang kubaca. Hujan sudah berhenti, menyisakan rintik-rintik yang berasal dari air yang terjebak pada gerumbulan daun yang digoyang angin malam. Aku sudah mulai memejamkan mata, namun tiba-tiba dari seluruh penjuru belanjadi menjadi riuh redam oleh suara hewan. Suara gonggongan anjing dan babi hutan paling kentara diantara timbunan suara hewan lainnya—lalu tiba-tiba hutan menjadi hening. Aku menjadi sedikit panik, kulihat dua kawanku, namun mereka nampak menikmati tidur mereka; aku jadi enggan membangunkan. Kucoba untuk memejamkan mata, namun terdengar sayup-sayup suara tapak kaki yang menginjak ranting dan kecipak air pada tanah yang basah. Aku makin rapat memejamkan mata dan menutup muka dengan sarung. Sambil menahan rasa takut, aku berusaha berpikir positif, bisa saja itu hewan buas, sontak aku bangun mengambil parang dan melepasnya dari sangkur.

Dalam posisi siaga, kubangunkan kawan-kawanku. Namun tidak ada yang bangun.
“Selamat malam.” Muncul seorang lelaki setengah baya menggunakan pakain tradisional, badannya kecil namun tegap dan otot-ototnya menyembul-karena tempaan geografis hutan yang keras. Dihiasi motif tato yang membuatnya terlihat semakin perkasa.
“Malam.”Ucapku masih dalam kondisi siaga. Kulihat wajahnya tersenyum memperlihatkan gigi berwarna merah karena sirih.
“Ada rokok kah,” tanyanya padaku, “saya habis berburu dan terjebak hujan.” sambil menunjukkan bangkai babi hutan yang dia letakkan di bawah pohon tidak jauh dari tendaku. Mungkin suara riuh itu dia penyebabnya.
Segera kukeluarkan sebungkus rokok dari ranselku, lalu kusodorkan padanya. Entah aku tidak nafsu merokok sejak siang tadi. Padahal dalam sehari aku bisa menghabiskan tiga bungkus rokok.
“Sudah makan?” Tanyaku padanya.
“Sudah, tidak perlu repot-repot, saya hanya mencari rokok,” Ucapnya, sambil menguarkan asap rokok yang menyatu dengan udara, “Jadi apa tujuan masnya jauh-jauh ke sini?” Ucapnya tiba-tiba.
“Tujuan saya ke sini untuk meneliti.”
“Apa itu meneliti?” Ucapnya menyelidik.
“Semacam survey,” Ah, bahasaku kurang membumi, “maksud saya, sedang melihat kondisi di sini, untuk kebutuhan menulis.”
“Bukan untuk merusak hutan kan?” Mimik wajahnya berubah serius.
“Tidak, saya hanya melihat-lihat saja sambil berpetualang.” Ucapku bohong. Sebenarnya aku datang ke sini untuk keperluan pendataan dan pemetaan. Keperluanku adalah untuk kepentingan ilegal loging dan pembukaan lahan sawit. Namun bodoh jika aku mengatakan sejujurnya.
“Baguslah jika tidak, saya sangat sedih sebenarnya. lahan berburu saya semakin menyempit karena hutan banyak ditebang. Jika hutan semakin menyempit, saya tidak punya tempat tinggal lagi dan anak-istri saya akan makan apa?” Ucapnya sambil menahan getir.
“Kenapa bapak tidak tinggal di desa saja, anak bapak bisa sekolah juga dan mendapat ilmu.”
“Saya lahir dan besar di hutan ini, saya tinggal secara pindah-pindah mengikuti hewan-hewan bergerak dan beranak pinak. Anak-anak saya tidak belajar dari sekolah, tapi mereka belajar dari alam. Alam yang akan mengajarkan merek untuk bertahan hidup.” Mengambil rokok milikku lagi dari bungkusnya, aku pun ikut menghidupkan rokok dan menyodorkan kopi milikku yang sudah dingin.
“Entah pak, dunia terus berkembang, dan kita harus mengiku alurnya. perlawanan sekarang hanya terdengar konyol jika melakukannya.”
“Saya akan terus bertahan dan melawan ketamakan orang-orang itu, termasuk anda!” Suaranya meninggi.
“Saya hanya sekrup kecil dalam kehidupan ini.”
“Beberapa hari ini anak saya sakit, dia mengeluh sakit perut usai meminum air sungai; padahal tidak ada masalah apapun pada saat kami meminum air sungai.” Ucapnya sedih.

Tentu saja dia sakit perut, air yang dia minum sudah torkontaminasi dengan limbah tambang. Tubuh mereka yang alami akan mudah sensitif dengan hal semacam itu. Dan orang ini juga bisa saja jatuh sakit setelah bertemu denganku; akibat virus atau apapun itu yang kubawa. Penyakit yang remeh untukku bisa mematikan untuknya.

Dia menambahkan lagi, “Apakah saya sebentar lagi akan mati.” Seolah membaca pikiranku.

Aku tidak menjawab, hanya terdiam. sibuk menghisap rokok. Saat kumelihat wajahnya, tiba-tiba dia menyengir tertawa kepadaku. Senyumannya membuat darahku terkesiap.

“Hahahaha…..” Dia tertawa dengan kencang. Matanya melotot, lalu dia memegang kepalanya dan kepala itu lepas, darah muncrat sampai mengenai wajahku. kepala itu terbang bersama jeroannya yang mengeluarkan cahaya merah redup.

Aku berteriak histeris sejadi-jadinya.

“Zul, bangun Zul….”
Mataku terbuka, kulihat Roni dan Beni melihatku heran.
“Mimpi apa kau?” Tanya Beni.
“Tidak ada.” Jawabku, sambil mengusap keringat.
“Kamu teriak gak jelas, tadi kamu dibangunkan susah sekali dan badanmu demam sambil menggigil”
“Lebih baik kita kembali saja.” Ucapku.

Matahari mulai menyingsing menerobos pekatnya hutan. Tidak ada yang menghalangi dan menanyakan apa yang kumimpikan semalam. Perahu kembali ke hilir, kusimpan rahasia itu bersama seisi rimba yang perlahan mulai ditututupi kabut.
Perahu berjalan dengan tenang, di tepian sungai kami sedang melihat sekelompok keluarga suku asli yang menonton kami. Dari kelompok itu, kulihat pria itu, sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ucapan ‘dadah’.

“Kencangnya speed boat” ucapku, dia ada di sini”.
Anjing, dalam hatiku, teror belum selesai.